Jumat, 13 Oktober 2017

Mengenal Najis

Baca Juga



Oleh :  H. Machfud Machradji.


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Secara bahasa atau ametimologi, najis artinya kotor. Najis berasal dari bahasa Arab,  Al-najas.vl Kata ini terdiri dari huruf nūn, jīm, dan sīn yang asal artinya anonym dari kata thahārah (suci). Secara bahasa najis artinya kotor. (Ibrahim Mustofa dkk., Al-Mu`jam Al-Wasith, kata: نجس). Kata lain dalam bahasa arab untuk najis adalah “rijs“

Dalam al-Qur’an kata ini disebut hanya sekali saja, yaitu dalam QS. Al-Tawbah (9): 28 (إِنَّمَا المُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ), sesungguhnya orang musyrik itu najis. A. Hassan menjelaskan maksud kata najis dalam ayat tersebut adalah najis maknawi yakni i‘tiqad mereka yang najis bukan badan mereka.

Pengertian Najis secara istilah/syara/agama/terminology :
Ada 3 ( tiga ) pegertian najis secara istilah agama :
1.Najis berupa benda atau zat yang diperintahkan untuk membersihkannya jika mengenai pakaian atau badan bila hendak melakukan shalat. ( termasuk najis hissi, najis yang dapat dirasa, dilihat atau dipegang ).
2.Najis yang tidak boleh dimakan. ( termasuk najis hissi ).
3.Najis didalam I’tiqad (niat, maksud, kemauan), yaitu seperti I’tiqad orang musyrik. Najis ini tergolong sebagai najis maknawi, yaitu najis yang tidak dapat dirasa, dipegang oleh panca indera.

Najis berupa benda yang diwajibkan membersihkannya sebelum shalat, misalnya, air kencing manusia, tahi manusia, darah haid dll. Najis yang tidak boleh dimakan contohnya darah, daging babi dan bangkai. Najis maknawi contohnya, judi, musyrik, minuman keras/hamr/arak dll.

Hukum asal segala sesuatu adalah suci.
Terdapat kaidah dalam ilmu fiqh yang disebutkan ulama:
الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ

“Hukum asal segala sesuatu adalah suci”
Kaidah ini berdasarkan firman Allah:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Dzat yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kalian” (Qs. al-Baqarah: 29).

Syaikh Abdurrahman as-Sa`di ketika menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan, “Dia menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi, … karena berbuat baik dan memberi rahmat, untuk dimanfaatkan, dinikamti, dan diambil pelajaran. Pada kandungan ayat yang mulia ini terdapat dalil bahwa hukum asal segala sesuatu adalah suci. Karena ayat ini disampaikan dalam konteks memaparkan kenikmatan …”
(Abdurrahman As-Sa`di, Taisir Al-Karim Ar-Rahman: Al-Baqarah: 29).

Oleh karena itu, semua benda yang dihukumi najis harus berdasarkan dalil. Menyatakan satu benda tertentu statusnya najis, namun tanpa didasari dalil maka pernyataannya tidak bisa diterima. Karena pernyataannya bertolak belakang dengan hukum asal.

Semoga bermanfaat saudaraku, amiin...
*(M2/DI/Red)*