Rabu, 11 September 2019

Rompas Minta, Dewan Pers Hormati Putusan Banding

Baca Juga

Kuasa Hukum Penggugat, Dolfie Rompas.


Kota JAKARTA – (harianbuana.com).
Menanggapi berita di berbagai media terkait pernyataan Dewan Pers dan Persatuan Wartawan Indonesia bahwa informasi yang beredar tentang pembatalan putusan Pengadilan Negeri atas Gugatan Perbuatan Melawan Hukum terhadap Dewan Pers adalah hoax, Kuasa Hukum Penggugat Dolfie Rompas meminta pihak Dewan Pers menghormati putusan banding di tingkat Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Menurut Rompas, pihak Dewan Pers harus terbuka dan transparan dalam mengungkap apa isi putusan di tingkat PN Jakarta Pusat Nomor: 235/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Pst yang dibatalkan oleh Majelis Hakim di tingkat banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dengan nomor. 331/PDT/2019/PT.DKI.

"Gugatan kami ditolak di tingkat pertama karena dasar pertimbangan Majelis Hakim dalam mengadili perkara adalah bahwa apabila peraturan hukum yang dimintakan untuk diuji tersebut kewenangan pembentukannya didasarkan pada suatu peraturan perundangan dan letak hierarkinya berada di bawah undang-undang, maka berdasarkan ketentuan Pasal 31 ayat (2) UU No.5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung, yang berwenang memeriksa dan memutus adalah Mahkamah Agung RI dan bukan menjadi wewenang Pengadilan Negeri", ungkap Rompas.


Selain itu, masih menurut Rompas, dalam pertimbangan Majelis Hakim disebutkan, bahwa peraturan yang dibuat oleh tergugat (Dewan Pers) kewenangannya adalah diberikan oleh Undang-Undang, yakni ketentuan Pasal 15 ayat (2) UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Dan pada pertimbangan lain disebutkan pula, apabila peraturan tergugat (Dewan Pers) yang dimintakan pembatalan oleh para Penggugat dalam perkara a quo adalah Peraturan Tergugat Nomor 4/Peraturan-DP/XII/2017 tentang Standar Kompetensi Wartawan (SKW), dan ternyata peraturan tersebut pembentukannya didasarkan atas peraturan perundangan Pasal 15 ayat (2) UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers, maka pemeriksaan pengujian tentang sah-tidaknya atas peraturan Dewan Pers, yang di dalamnya termasuk pengujian apakah Tergugat dalam membuat peraturan tersebut melampaui batas kewenangannya atau tidak adalah menjadi wewenang Mahkamah Agung.

Atas pertimbangan di atas, hakim mengadili gugatan Penggugat tidak dapat diterima. Dan, atas dasar putusan itu, Rompas mengaku pihaknya berniat mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung RI.

Namun, ternyata syarat mengajukan gugatan pembatalan peraturan yang dikategorikan peraturan perundang-undangan, peraturan tersebut harus masuk dalam lembaran negara dan lembaga yang membuat peraturan itu harus berlogo lambang garuda.

“Bagaimana kita bisa menggugat Dewan Pers, sementara peraturan mereka tidak masuk dalam lembaran negara dan logo dewan pers bukan lambang garuda", ungkap Rompas pula, seraya  mempertanyakan.

Untuk itulah, Rompas mengatakan pihak penggugat memilih mengajukan banding atas putusan PN Jakarta Pusat ke Pengadilan Tinggi  DKI Jakarta dan hakim menerima permohonan banding Penggugat.

Rompas menjelaskan, pada saat Penggugat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, pihaknya menyampaikan kepada Majelis Hakim, bahwa peraturan Dewan Pers bukan merupakan perintah undang-undang karena tidak masuk pada lembaran negara.

Selain itu, dijelaskannya pula, bahwa dalam eksepsi yang disampaikan Tergugat (Dewan Pers) pada tingkat pertama, Tergugat justru mengakui sendiri bahwa kebijakan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tidak mengikat dan wartawan yang belum mengikuti UKW tetap menjadi wartawan.
“Tapi pada prakteknya semua wartawan diwajibkan harus ikut UKW dan kalau tidak ikut UKW maka akses meliput sering dibatasi dengan edaran Dewan Pers ke seluruh pemerintah daerah", jelas Rompas pula.

Menutup pernyataan pers yang disampaikannya, Rompas meminta, pihak Dewan Pers dapat menghormati keputusan banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang sudah membatalkan putusan PN Jakata Pusat, sehingga peraturan Dewan Pers jangan lagi diklaim sebagai perintah Undang-Undang karena pertimbangan Majelis Hakim di tingkat Pengadilan Negeri tersebut sudah dibatalkan oleh Majelis Hakim di tingkat Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

"Jadi, tidak benar kami menebar hoax seperti yang dituduhkan, karena faktanya pertimbangan Majelis Hakim tingkat PN yang menyatakan peraturan Dewan Pers pembentukannya didasarkan atas peraturan perundangan sudah tidak bisa dijadikan acuan karena sudah dibatalkan oleh PT (Pengadilan Tinggi) DKI Jakarta", pungkasnya.

Rompas juga menyarankan kepada insan pers agar tidak bingung dan terpengaruh dengan pernyataan Dewan Pers dan PWI atas putusan Pengadilan Tinggi tersebut. *(***)*


BERITA TERKAIT :
> Permohonan Diterima, Dewan Pers Kalah Di Tingkat Banding
> Sidang Lanjutan Gugatan PMH Terhadap Dewan Pers, Saksi Ahli: Peraturan Dewan Pers Melanggar Undang-Undang Pers
> Sidang Ke-15 Gugatan PMH Terhadap Dewan Pers, Penggugat Serahkan Bukti Ke Majelis Hakim PN Jakarta Pusat
> Sidang Ke-11 Gugatan PMH Terhadap Dewan Pers, Hakim Pertanyakan Adakah Wartawan Yang Dilaporkan Polisi ?
> Sidang Ke-5 Gugatan PMH Terhadap Dewan Pers, Wilson Pertanyakan Profesionalisme Kuasa Hukum DP
> Sidang Ke-4 PMH Terhadap Dewan Pers, Penggugat Pertanyakan Duta Besar Ikut Teken Surat Kuasa Sebagai Anggota Dewan Pers
> Sidang Ke 3 Gugatan Perbuatan Melawan Hukum, Dewan Pers Terancam Verstek
> Sidang Ke-2 Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Terhadap Dewan Pers, Rompas Protes Legal Standing Ketua Dewan Pers
> Sidang Perdana Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Terhadap Dewan Pers Akan Digelar Besok
> Dewan Pers Akan Digugat Ke Pengadilan